Sekarang pengguna layanan seluler tidak perlu pusing lagi menghitung berapa tarif yang sudah dihabiskan untuk menelpon dalam jangka waktu tertentu. Karena kini sudah banyak operator yang menawarkan tarif flat satu tarif untuk ngobrol sepuasnya.
Dengan 10 operator seluler beserta sekitar 21 jenis produk layanan seluler yang ada di Indonesia, sudah dipastikan masing-masing operator mencoba meraup pangsa pasar dengan berbagai strategi program layanan yang beragam. Namun ada satu ajang persaingan yang sepertinya mautidak mau semua operator harus ikut bersaing, apalagi kalau bukan perang tariff murah. Ini dinilaiwajar mengingat penggunaan layanan telkomunikasi di Indonesia masih di dominasi oleh penggunaan untuk menelpon dan berkirim SMS.
Bertambahnya jumlah pengguna sepertinya menjadi sasaran yang terus diburu oleh para operator seluler. Mereka seolah tidak lagi mementingkan resiko margin ( keuntungan ) yang diperoleh akan semakin menipis akibat memberlakukan tarif percakapan dan juga SMS yang begitu murah. Namun para operator berkilah, dengan murahnya tarif maka trafik percakapan akan meningkat, dengan begitu pemasukan dapat tetap terjaga. Memang godaan tarif murah membuat pengguna layanan seluler tidak takut lagi untuk seenaknya bertelpon, karena tidak ada lagi rasa kawatir akan dikenakan tarif yang mahal.
Dari Per Detik Ke Flat
Hingga saat ini perang tariff operator belum menunjukan tanda-tanda akan merada. Bahkan persaingan yang terjadi semakin menggila. Setelah persaingan perang tariff detik-detikan (per detik), kini operator coba bersaing menawarkan tariff flat. Ya… pengguna cukup dikenakan satu tariff untuk bisa melakukan percakapan sepuasnya. Tarif flat yang diperlakukanya pun sangatlah murah, bahkan ada yang sampa tidak memberlakukan tariff alias gratis. Tercatat ada 8 produk operator (GSM dan CDMA) yang berani memberikan tariff flat. Yaitu Flexi Mesra (Telkom), Bebas (Xl), Axis (NTS), 3 (Hutchitson), Hepi (Mobile 8) dan Esia (Bakrie Telecom) dan Smart ( Sinarmas ). Sebenarnya promo tarif flat bukanlah strategi yang terbilang baru, tercatat beberapa operator telah memberlakukan tarif promo model ini. Sebut saja Mentari dengan promo free Talk-nya. Namun belakangan semakin banyak operator menggunakan tarif flat. Yang sebelumnya lebih cenderung berperang dengan model strategi tarif per detik.
Murah Tapi Jangan Murahan
Namun ditengarai imbas dengan murahnya tarif dan meningkatkan trafik percakapan, membuat kualitas jaringan seluler semakin menurun. Mulai banyak pengguna yang mengeluhkan adanya blocked call atau sulit untuk menghubungi nomor-nomor tertentu. Ada juga keluhan seringnya terjadi drop call, ketika sedang enak-enak bertelepon tiba-tiba saja putus. Ada juga layanan operator yang tak bisa melakukan panggilan setiap sore hingga pagi hari, hanya layanan pesan singkat yang bisa diakses. Bahkan pada waktu-waktu yang lalu, bayak kejadian yang mengindikasikan buruknya kualitas layanan seluler terkait peningkatan trafik. Misalnya pada saat operator baru saja program promo tariff murah, terkadang terjadi network busy dan success call ratio yang mengalami penurunan kendati sinyal tetap penuh. Hal ini buknya tidak diketahui para operator. Mereka sadar kalau saat ini memang masih berada dalam era price driven. Dimana operator lebih cenderung berlomba dalam memberikan tariff murah. Setelah sebelum era ini terjadi persaingan coverage (jangkauan). Namun kedepannya eranya akan berubah, lebih tertuju pada persaingan kualitas. Sebagaimana yang di ungkapkan I Made Harta Wijaya, Vice president VAS &New Business Xl, “ Setelah dulu sempat berfokus pada coverage, menuju price driven setelah ini bakal mengarah pada service quality driven dan VAS driven” ujarnya. Hal ini juga diyakini Hasnul Suhaimi, presiden direktur XL. Menurutnya, arah industri yang berorientasi pada kualitas tak bisa dielakkan lagi. Fuad Fachroeeddin, Group Head Intregrated Marketing Indosat, juga menuturkan hal serupa. “ Industri ini terus mengalami peningkatan dari mulai basic service pada awal layananya, lalu naik ke coverage, naik lagi ke harga dan kini mulai mengarah ke kualitas,” ujarnya.

No comments:
Post a Comment