Tuesday, January 6, 2009

TV One dan Eksekusi Amrozi : Pertempuran Yang Tidak Seimbang\

Dahulu, televisi menjadi sarana penyebaran informasi yang paling efektif. Sekarang, Televisi bahkan telah menjadi arena pertempuran argumen untuk merebut opini publik. Siapa yang mampu memberikan argumen paling masuk akal, dia yang akan jadi pemenang. Tak heran jika kemudian debat capres hingga konfrontasi 2 pihak yang berseteru disajikan oleh televisi layaknya "Reality Show".

Saya cukup bingung akan apa yang dilakukan oleh TV One pada Jumat malam dan sabtu pagi. Jum'at malam, di acara kabar petang, TV One menayangkan berita seputar eksekusi mati Amrozi dan kawan-kawan. (Saya juga bingung, kenapa disebut Amrozi dkk. Padahal Imam Samudra punya pangkat yang lebih tinggi). Tayangan tersebut kemudian dilanjutkan dengan wawancara dengan Ustadz Khozin, keluarga dari Amrozi, dan juga Khusnul Khotimah, seorang korban Bom Bali 2002.

Bingung, karena narasumber yang dihadirkan sudah tidak berimbang. Ustadz Khozin adalah keluarga, bukan pelaku, terlibat pun tidak (setidaknya menurut hukum begitu). Khusnul khotimah, amat sangat terlibat karena dia yang merasakan langsung efek dari "mercon" rakitan tersebut. Tidak imbang, karena pertanyaan awalnya adalah menilai sejauh mana perasaan mereka menjelang eksekusi mati, namun di tengah jalan perdebatan muncul dengan topik yang berbeda : Amrozi salah atau tidak. Akhirnya, Ustadz Khozin yang guru agama dan tokoh masyarakat berdebat soal salah-menyalahkan dengan Khusnul Khotimah, seorang rakyat biasa yang pekerjaannya sehari-hari pun serba serabutan. 2 level intelektualitas yang berbeda berselisih dalam satu perspektif yang sama: Agama. Saya hampir menahan tawa ketika persoalan "Khusnudzon dan Su'udzon" (Kalau ejaan salah, maafkan) menjadi ramai. Khusnul Khotimah dengan intelektualitas rakyat jelata mengatakan bahwa kemungkinan keluarga Amrozi dendam itu terbuka. Sementara Ustadz Khozin menepisnya dengan mengatakan bahwa Khusnul Khotimah sudah "Su'udzon" dan bahkan meragukan keislamannya.

Sabtu pagi, kurang dari 24 jam setelah acara jum'at malam tersebut, TV One menayangkan kembali topik hangat tersebut dalam acara "Apa Kabar Indonesia Akhir Pekan". Kali ini narasumbernya ganti : Achmad Michdan, Pengacara Amrozi dkk dari Tim Pembela Muslim (TPM). Namun, narasumber satu lagi masih Khusnul Khotimah. Topiknya sama, seputar eksekusi mati.

Bingung, karena TV One menyajikan narasumber yang sama, sementara narasumber tersebut tidak mampu memberikan argumen yang lebih baik daripada sebelumnya. Khusnul Khotimah hanya menampilkan (lagi dan lagi) betapa hidupnya sengsara akibat Bom tersebut. Dan lagi-lagi, wanita ini hanya menunjukkan rasa marahnya kepada para terpidana dengan gaya bahasa ala rakyat jelata.

Hasilnya, Achmad Michdan yang notabene adalah pengacara, jelas punya intelektualitas dan kemampuan argumen yang jauh diatas Khusnul. Sangat tidak berimbang. Sekedar Cover Both Side, namun tidak Quality Resources. Hasilnya bisa ditebak, setiap kekesalan Khusnul dapat dengan mudah dipatahkan oleh Michdan. Opini kemudian membawa pembicaraan pada pertanyaan : mengapa TPM getol sekali membela Amrozi, dan bukan membela korban Bom Bali? Tidak lama kemudian pertanyaan itu terjawab dengan sangat cantik. Bahwa pembelaan tersebut adalah dikarenakan adanya permintaan dari pihak terpidana (sebab, Michdan mengatakan TPM tidak pernah melakukan pembelaan tanpa ada permintaan terlebih dahulu). Bahwa pembelaan tersebut karena Amrozi dkk hanya mengakui bahwa mereka pelakunya, namun bukti-bukti keterlibatan mereka tidak valid (inilah sesungguhnya pekerjaan pengacara, bermain-main dengan argumen). Bahwa umat islam di seluruh dunia, bukan hanya Indonesia, seringkali mendapat perlakuan berbeda, hingga persepsi ada yang tidak beres dengan pengusutan kasus ini.

Sungguh tidak berimbang, karena patahan-patahan yang dilontarkan oleh Michdan, tidak mampu dibalas oleh Khusnul. Bagi saya yang menyaksikan tayangan tersebut, TV One telah menghadirkan sebuah arena pertempuran opini antara "Roger Federer" melawan "Sukadi" (ya, betul, siapa itu Sukadi?). Terlihat jelas ketidak mampuan TV One menghadirkan narasumber yang selevel dengan Michdan maupun Ustadz Khozin. Terlihat jelas ketidak mampuan TV One menghadirkan narasumber yang netral untuk mengembalikan topik ke jalur sebenarnya. Terlihat jelas ketidak mampuan TV One membawa pembicaraan ke arah yang lebih tepat. Perdebatan Jumat malam dan sabtu pagi merupakan perdebatan yang seharusnya terjadi beberapa saat setelah vonis pengadilan, alias beberapa tahun silam.

Dan disinilah kebingungan saya, kenapa tokoh-tokoh pers sekaliber Karni Ilyas dan Nurjaman di TV One, tidak mampu menghadirkan sebuah pertempuran opini yang menakjubkan, tapi cantik. Pertempuran opini antara korban dan pengacara pelaku adalah sesuatu yang sangat biasa dalam kegiatan jurnalistik. Biasa, bukan Berbeda seperti motto TV One.

No comments: